25 Jul 2010

KEJAWEN # 2

Pringgitan
10 Juli 2010
73 Tahun WO Ngesti Pandowo (2)
Dibanding Olahraga, Bantuan Pemerintah Terlalu Kecil


GEDUNG Ki Narto Sabdo yang dipakai pentas WO Ngesti Pandowo.
Oleh Bambang Iss

JIKA memang pemerintah provinsi Jateng membantu dana dari APBD, itu pun cuma Rp 33.600.000 pertahun. Ini terlalu kecil jika dibandngkan dana olahraga atau institusi kesenian lain misalnya Dewan Kesenian Semarang (Dekase) yang sampai Rp 200 juta lebih pertahun tapi tidak ketahuan kegiatannya.

Melihat kenyaaan itu pihak Ngesti Pandowo pun menerimanya dengan iklas. "Habis mau gimana? Kalau memang cuma segitu ya kami terima saja, bagaimana kita menggunakannya saja," kata Cicuk Sastro Sudirdjo. Maka ia pun banting tulang menutup biaya produksi setiap Sabtu malam di mana Ngesti Pandowo menggelar pertunjukannya. Caranya, menggantungkan pemasukan dari penonton.

Ikhwal penonton, pengelola WO ini pun mulai lega, karena sekarang semenjak setahun terakhir hampir setiap Sabtu malam, pegunjungnya selalu memenuhi kursi, paling tidak separuh kapasitas gedung terisi. Menurut Cicuk, jumlah ini cukup signifikan, karena tahun-tahun sebelumnya Ngesti selalu sepi pengunjung.

Masih soal penomntom, ketika mendengar khabar, bakal diberlakukan wajib tonton wayang untuk siswa SD oleh pemerintah kota, maka mata Cicuk pun berbinar cerah. "Tentu kami senang mendengar rencana itu. Kabarnya walikota Sukawi sudah setuju, tinggal pelaksanaan saja," kata lelaki ini.

Jika "wajib tonton" diberlakukan, maka pihak Ngesti segera melakukan persiapan, dengan mengadakan pentas dua kali dalam sehari, yakni hari Sabtu. Pertunjukan untuk anak sekolah dilaksanakan siang hari dengan durasi dan pemain lebih sedikit. Dilanjutkan malam harinya sebagai pentas reguler.

Sanggar tari.

Yang sekjarang menjadi persoalan para pengelola grup wayang orang adalah soal regenerasi para seniman wayangnya. Ngesti Pandowo juga merasakan kesulitan itu. Tapi pihaknya masih bisa berharap dari penyelenggara sanggar tari, yang diharapkan lulusannya bisa ikut di WO Ngesti Pandowo.

Beberapa sanggar ini antara lain Sanggar Yasa Budaya, Sanggar Antika, Pepetri (Persatuan Pelatih Tari) atau para mahasiswa Unnes Semarang jurusan seni tari. "Ya, akhirnya kami menggantunkan dari para sanggar itu untuk proses regenerasi," kata Cicuk.

Meski tidak signifikan, tapi dewasa ini Ngesti Pandowo sering menampilkan para pemain muda, bahkan untuk peran-perang penting. Ada beberapa nama dDi antaranya Maya, Fain, Paminto atau Agung Ciptoningtyas.

Mereka diharapkan akan menjadi pemain besar bahkan bisa membawa nama Ngesti Pandowo, menggantikan para seniornya seperti Dinar atau Sumarbagyo yang pernah menjadi ikonnya Nesti Pandowo. Sama seperti nama (alm) Rusman dan Darsi yang pernah menjadi bintang di WO Sriwedari Solo atau nama Kenthus dan Kies Slamet untuk WO Barata Jakarta. (Habis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wayang Orang Ngesti Pandowo

Wayang Orang Ngesti Pandowo
adegan peperangan dalam pementasan Ngesti Pandowo pada thn 1970-an d GRIS Semarang

W.O.Ngesti Pandowo

W.O.Ngesti Pandowo
inilah panggung W.O Ngesti Pandowo (sekarang)

OELTAH W.O Ngesti Pandowo (73 thun)

OELTAH W.O Ngesti Pandowo (73 thun)
wayang orang Ngesti Pandowo Semarang

About Me

Foto saya
semarang, semarang, Indonesia
Ternyata Gedung GRIS Semarang di gusur dan d bongkar hanya karena membangun "Mall Paragon", kenapa budaya Jawa Tengah (W.O Ngesti Pandowo) harus di kalahkan dengan bangunan tersebut .apakah Indoneisa masih mmpunyai budaya yang telah tersingkirkan ini??? dan apkah pemeritah Indonesia kususnya semarang ini masih peduli pada budaya yag adiluhung (bdaya dari nenek moyang kita sndiri)??? AYO KITA PELIHARA BUDAYA KITA SENDIRI & MAJUKAN NEGARA KITA "SURO DIRO JAYANINGRAT LEBUR DINING PANGASTUTI - HAYU HAYU RAHAYU" NISKOLO.